Jumat, 20 Juni 2014

Foto yang Tertinggal ketika Muncak Ungaran

 Missing Photo whwn i was hiking in Ungaran :)





































Cerita Ramesan di Bulan Juni


Sudah lamaa ternyata aku tidak menulis-nulis. Tapi sudah lama juga aku tidak mempostingkan catatn terakhirku di bloggku yang sangat aku cintai ini. Jiahahahah. Sebenarnya banyak sekali catatan yang ingin aku pamer kepada kalian yang mungkin kebetulan membaca blog miliku. Dari mulai KKL di Tawangmangu, SMBTNnya Gilang, atau cerita-cerita ringan yang layak untuk aku kisahkan.
Pertama, aku akan menceritakan tentang KKL di Tawangmangu. Kami mengunjungi B2P2TOOT dilanjutkan menuju JavaPlant di hari pertama.  Perjalanan menempuh waktu kurang lebih 3 jam. Menggunakan 4 buah bis. Aku memilih di bis ke-2 dan duduk bersama Mbak Dian di bagian belakang. Menyenangkan sekali.
Di hari kedua sebelum pulang kami melanjutkan perjalanan ke Balai Pembibitan, sebelumnya kita ke Grojogan Sewu ding. Menyenangkan sekali, beneran, ini kesempatan tak akan aku lewatkan. Apalagi aku menyukai sesuatu yang berbau alam macam ini. Hehehe, aku foto di Air Terjunnya lhooo. It was like stand up in shower. So u can fell water very near from your face. Basah banget baju aku disana.

Sebenarnya kalau aku naik lagi lebih atas, bisa. Tapi berhubung aku mengenakan rok dan itu juga dapat membahayakan diriku, maka lebih baik jarak amannya segitu deh. Yeahhh.. I love waterfall!

The second picture, it was a tired time. Foto itu foto waktu kita harus naik ke pintu keluar Grojogan sewu. Tertulis 1520 anak tangga naik, sedangkan kalau turun menuju air terjunnya itu juga 1520 anak tangga, berarti kita melalui 3040 anak tangga, good job! Mana lagi di pintu keluar kita harus berhadapan sama monyet ekor panjang liar yang suka ngambilin barang pengunjung kaya tas, atau kresek, atau barang menarik lainnya lah..
Setelah itu kita ke PGS Solo! Pusat Grosir Solo, menjual aneka pakaian. Aku tidak bisa melanjutkan cerita ini, karena aku takut teringat akan Jogjakarta. Huahhhh, karena Jogja itu Everlasting Asia sedangkan Solo yang merupakan saudaranya ini adalah Spirit of Java. Huaaaahhhhh,, kangen Jogja sekaleeee.
Ya sudah yah, kita melanjutkan cerita selanjutnya. Emm. Sebenarnya aku menulis cerita ini, waktu sudah berganti di hari Jumat. Hari Kamis adalah hari yang menyenangkan, karena aku bisa tertawa dengan puas ketika melihat Stand Up Comedy Indonesia Season 4. Kemarin, tayangannya hanya kilas balik cerita sebelumnya. Karena menuju grand final antara #DavidNurbiyanto dengan #Abdurrasyid. Ada fakta yang mengejutkan mengenai Abdur, ternya orang NTT ini adalah S2 Matematika. Anjir…
Biasa dong, my laugh patner is Sista Revi. Hahaha. Iya kalau bukan bersamanya, setengah-setengah ketawanya. Apalagi aku sering membully dia yang suka sama comica bernama Uus. Oya sedikit cerita tentang Uus, aku pernah bilang ke Kucing kalau dia mirip dengan comica bernama Uus. Iya. Makanya aku ketawa saja kalau si Uus ini tampil. Ciusan. Ucapan Uus yang aku inget waktu dia bilang “Kuncinya lagu ‘Mantan Terindah’ adalah Move On”. Padahal aku kira itu kunci gitarnya lagu tersebut.
Terus cerita apalagi yah?
Oiya, kemarin dari minggu aku di sibukan oleh kedatangan adik kandungku yang mau ujian SBMPTN yang kebetulan tempat tesnya adalah UNDIP, yasudah yah. Untuk irit tempat dan sebagainya, aku menyuruhnya untuk nginep di kamarku. Awalnya dia agak segan karena kosku adalah kos putri. Tapi ya setelah di timbang-timbang tak ada salahnya selama memang tak ada yang di perbuat.
Harapanku semoga adikku di terima, sehingga tidak ada kekecewaan yang terjadi maupun lain-lain.

Andai aku bisa seperti Taylor Swift yang membuat lagu berdasarkan pengalaman cintanya


Andai aku bisa seperti Taylor Swift yang membuat lagu berdasarkan  pengalaman cintanya. Mungkin yah, hanya orang itu lagi atau lagi-lagi orang itu. Kekeke~ kalau Mrs.Swift khan banyak tuh yang menjadi topic dan materinya. Sebenarnya sih, inti dari lagu-lagunya adalah masa lalunya ya kita bisa menyebutnya dengan MR. Yesterday.
Okeh balik lagi ke diri sendiri. Kalau sudah membayangkan tentang sedikit atau secungkil masa lalu, aku hanya bisa mengekspresikannya dalam bentuk tulisan atau gambar. Sebab aku tidak dapat bernyanyi dengan suara yang aku tidak begitu baik, maupun memainkan alat atau instrument music.
 Sedih juga sih jika membaca kembali beberapa tulisan dan itu bisa membuat jebakan nostalgia (menurut Raisa). Ya pahamkan. Apalagi orang berjenis kelamin cowok, trah keturunan Adam yang dapat dikatakan sepantaran denganku hanya dua orang, yakni Kancil dan Elang. Monyet? Kucing? Jerapah? Hahahaha. Jangan diambil hati, karena aku orang yang mudah menyukai, bukan mencintai.
Oya! Wanita adalah makhluk yang jeli, sensitive, dan peka (dapat dibilang demikian) sehingga dapat dengan dengan mudah menangis hanya karena teringat sesuatu ketika mendengar lagu, menonton film ataupun hari/tanggal yang menurut mereka … “Gue, banget…”.
Ya, itulah sosok yang bernama Hawa. Yang terkadang menuntut pasangannya untuk juga mengingat hal yang sama.
Disini bukannya aku membela kaum Adam, aku memberi sedikit nafas oksigen. Tapi secara logika, cowok atau lelaki yang (biasanya) di tuntut untuk harus ini itu pasti secara tak sadar tapi harus sadar dia lupa akan cerita-cerita yang dianggap tidak begitu penting. Tapi kata bapaknya adik kandungku, terkadang yang diingatnya adalah bekerja keras untuk membayar spp putra-putrinya di awal bulan. Sedangkan ibu, jelas dan pasti dia memgingat kapan anak, suami bahkan dirinya ulang tahun, tanggal pernikahan, tanggal tagihan listrik, telpon, maupun tanggal yang keramat, kekekek~ (maaf Mah, tapi mamah juga demikian).
Terkadang aku berfikir bahwa aku hampir memiliki kesamaan dengan Bang Radit yang malah membuat cerpen, film hingga komik berdasarkan cerita masa lalunya. Penggunaan nama hewan juga di lakukan pada setiap judul ceritanya dari mulai Kambing jantan, Kerbau betina, atau apalah itu. Kalau aku sih, jangan ditanya. Owl untukku, Kancil untuk dia, Elang untuk dirinya, Monyet untuk ia, ataupun mungkin … lalu untukmu, Pembaca? Engkau sendiri yang menentukan untukku. Mungkin Dear, Sweety, Be Loved, atau Sweet Heart. Ya sudahlah ini hanya kekacauan dengan bumbu geer yang akan membuat kesalah pahaman. Bukankah tadi aku sudah mengatakan bahwa aku mungkin saja mudah untuk menyukai seseorang, tapi tidak untuk mencintai seseorang.   

Selasa, 03 Juni 2014

This is My New Experience in Gn. Ungaran - Part. 2



LANJUTANNYA…..
Perjalanan ke atas, masya Allah susahnya. Ini sangat terjal dan batu maupun ranting serta akar pohonnya semakin banyak. Sapa-menyapa terjadi sering disini. Ditengah perjalanan ketika, ‘puk.. Auw!!’ Ya Allah napa ini paha sampai kepentok ujung pohon? Tapi lagu D’Masive terngiang di kepala, kekeke~ mau nangis sebenarnya waktu Ayu mukul-mukul kaki tersebut, katanya biar kebal –Adanya tambah sakit, Ayu!- Banyak sekali kejadian lucu, pengen ketawa sebenarnya dari mulai Ayu yang di gandeng Wildan karena akan membuktikan kalau Wildan tidak jahat (Ayu minta maaf terus ke dia), aku yang sempat kepleset, Imam yang jatuh gara-gara ketarik Sekar, Wildan yang di depan sempat mundur gara-gara ulat bulu, kita yang saling menuduh gara-gara bau kentut entah milik siapa, aku yang ngira kaki Wildan sebagai ranting pohon dan menarik-nariknya alhasil dia marah-marah, Ayu yang kakinya aku duduki,  dan Dones yang kata Ayu kaya Cupatkai, hahahaha Aku tertawa terus mengingat itu semua.
Sempat di berhentian kita aku merekam walau tanpa gambar pukul 3.40 AM subhanallah… itu pemandangan lampu kota semarang udah tak kalah keren dengan langit. Lampu kuning dan putih mendominasi bentuknya pun beragam, ada yang kaya bintangnya Gatotkaca, ular emas, huruf, dll. Yeah sempat mengambil foto, tapi koplak bin lemesnya si Wildan moto tapi tutup lensa masih nempel itu di mulunya, haduhhh… lemes. Yang keinget lainnya adalah waktu aku teriak beneran teriak sampai serak memanggil nama Hadi yang jauh di belakang, kata Hadi “Itu suara Ai kalau teriak menakutkan sekali”, di timpali oleh suara lemes Kak Ai, “Hadi itu yang teriak bukan Ai. Tapi Ajeng”. Kontan semuanya tertawa.
Kata Wildan target sampai puncak sebentar lagi, karena kita sudah melewati rute bukit pertama, nanti turun, nanti naik sebentar lagi baru sampai puncak. Kalau tidak salah suara adzan subuh dan puji-pujian sudah terdengar dari disini. Ada ucapanku gini, “Biar deh, sobek-sobek dah ini celan langkah pakai manjat batu segini gedenya”, eh di timpali ketawa mas-mas yang lagi istirahat. Sial,,,emang ada yang salah sama omonganku?
Hadi, dan Marliyah yang paling depan menghitung 18 langkah mundur dibelakangnya ada kak Ai dan Aku.  Yeahhhhh Pukul 5.10 kami sampai puncak~~~~~~ Aku langsung sms Abih-mamah mengabarkan bahwa kondisiku baik walaupun aku yakin pasti tidak terkirim. Suara syukur, pujian, aku lantunkan kepada Allah SWT selaku pencipta kehidupan alam yang mewah ini yang terusak oleh jamahan tangan manusia.
5.21 AM semburat garis berwarna jingga sudah mulai terlihat hingga di waktu 5.24 aku melihat matahari mulai muncul bersamaan dengan ciptaan lain makhluk Allah berupa penampakan pandaki-pendaki lain yang -----. Dihatiku bilang, “Maha Suci Allah yang menciptakan seluruh pemandangan alam  berupa matahari dan gunung lain yang indah di sisi lainnya dan makhluk-makhluk tampan ini”, hahahahah. Khan wajar yah, namanya juga cewek.
 Se sok-sokannya aku, se tomboy-tomboynya aku yang no-les, se mandiri-mandirinya aku, disuguhin ginian ya siapa yang nolak. Curcol yak dari yang mulai wajahnya mirip Danu, ada., mirip Kemal Pahlevi ada, mancung-mancung manis asoy, ada (wakakakak~)., sipit-sipit pendaya tarikan yang memikat, ada men!, se cool pria idaman yang ehem, ada., yang pasti sepertinya aku kepincut sama salah satu pembuat pasta. Ahahahah, tampangnya mengingatkan pada seseorang aghaha ahhhaaayyyooouu.  Beneran kaya di surga deh, sayang pada ngeroko. Malesi, ndeng!.
Ealah, ketemu si Denta Kimia’13! Uurusanku dengan dia karena kami satu sie danus, dan dia adik angkatannya Danu. Asemm.. kepo, kepo! Ternyata kekepoanku membuat aku jleb dan males untuk foto-foto. Di tambah hawa dingin yang melanda. Ngantuk! Untuk siasat pengobat sakit hati, ketika aku pinjam punggung Dones untuk tempat senderan kepala,  mata aku alihkan dongs ke mas mas yang membuat pasta. Aiiiiihhh, adem bener ni dah. Entah usut-punya kusut apa ketika aku ngegosip sama Denta tiba-tiba Imam dan yang lain menyebut nama Danu. Astagfirullahh.. merah ini wajah, tapi tetep sih mata aku tetap menatap mas-mas tersebut. Khun sobtah, na… Che rak khun!I pengin bilang, “foto bareng yuk.” Tapi tak mungkiiinnnn, sediiihhhh.
Yey, Kak Ai menjadi umi yang baik untuk kami semua, gimana tidak baik, dia menyuapi kami pudding satu persatu sambil ngucap, “nggeeeeenggg…pasawatnya mau terbang”. Berasa kami anak-anaknya khan, pokoknya sesi foto is numero uno walaupun Cuma sedikit.
Setelah puas jam 8.30an AM kami turun, dalam hati semoga aku bisa muncak kemanapun itu lagi. Waktu jam 8.05 kita sudah sampai di bukit yang semalem ada mas-mas yang ketawa. Pas lihat bawah ment! Aku shock dan takut setengah mati. Gimana gag, aku yang menderita pobia harus menelan ludah karena menyedari medan yang kita lewati sebegini terjalnya. Ya Allahhhh… Batu gede semua ini… Hadi turun tangan dan mencontohkan cara turun.
Aku, Marliyah dan Kak Ai mengawali waktu turun. Jauh banget pokonya. Mungkin karena ngantuk yah, aku sempat tidur di batu-batuan gituh. Ah, enaklah. Lagi-lagi aku kepleset sampai sandalnya copot. Aduhh, pantanya kaya diampelas. Panas. Yaudah intinya pas turun aku sama Marliyah nyampai duluan di kebun teah sambil foto pukul 10.07 AM. Sepanjang itu kita ngobrol pokoknya. Trus nyampai deh di tenda. Aku bur-buru ganti celana yang kotor ini, Lia aku suruh tunggu di luar. Eh pas keluar ngelihat Ijan penuh luka katanya tidur di taman bunga.
Mampus, tempat peepee kita semalem rupanya kebun bunga. Tiiddaaakkksss.
Trus ngadem di kebun kopi, hehehe. Sambil makan sisa pudding, mie rebus yang di campur sarden dan terlihat mirip pasta. Bersamaan sambil lagi-lagi aku dan Ayu di suapin kak Ai. Serasa yangan sangat lemah. Ya Allah, pahala banget untuk kak Ai. Yang lucu disini adalah adegan suap-suapan itu sendiri sih.. heheheh
Setelah selesai, kami yang dahulu sambil nunggu yang lain biasa dong, mendahului sampai di kolam renang tersebut.  Ya Allah itu airnya sejuk tak tertolong, itu lho air yang semalem buat minum kita. Kami ambil video untuk bercerita panjang lebar mengenai perjalanan kami. Dari aku, Marliyah dan Kak Ai yang di tunjuk sebagai sie logistic, Rahayu sebagai Percobaan Merbabu, dengan Sekar sebagai korban, Imam sebagai Sie medical alias tukang urut, Rafif dan Ijan Keamanan ngerangkap Dokumenter, Hadi sebagai ketua, Nasrul sebagai penasihat ibadah, Dones sebagai Sie mbah-mbuh, dan Wildan sebagai sie Juru Petunjuk jalan sekaligus ngerangkep juru foto. Seru kita di sana, trus aku sama Ayu mencuci bekas makan, nesting dan barang lainnya yang harusnya di cuci.
Entah apa yang membuat aku emosi, tapi aku sempat egois sedikit disini Ayu bilang jangan ngeluh, masa kalah sama ibu-ibu pengambil daun petai dan kopi. Sebenarnya Ayu benar dan tidak punya salah sedikitpun, tapi aku marah aja tanpa sebab. Yang membuat aku melangkah mendahului yang lain bersama sahabatku, Marliyah (lagi). Tapi di tengah jalan ketika kami berhenti Rafif datang mendahului kami. Yey. Jadi kami bertiga. Sebenarnya perjalanan semalem itu yang lama  ditempuh kami ke Pos Mawar hanya dalam waktu satu jam, karena kami sampai situ pukul 2.25 PM pas! Istirahat minum Cuma dua kali. Dan sama seperti sebelumnya ketika kami berpapasan dengan pendaki lain yang mau ke atas atatupun yang turun kebawah selalu saling menyapa.
Kocaknya sempat di tengah jalan Rafif berhenti dan dan menyuruhku jalan di depan karena ada laba-laba yang membuat sarang. Oiya, dia khan takut sama serangga. Kocak sebenarnya. Ketika beberapa lama Rafif merentangkan tangan s ke kita, ternyata yang jualan makanan di depan kita. Yeay! Sampai di pos mawar! Pekikku. Rafif makan mie dan aku sama Marliyah menuju camp untuk solat. Hampir jam 3, rombongan yang terdiri atas HAdi, Ayu, Dones, Ai, Wildan dan Nasrul datang. Kami sudah selesai solat dan lagi makan bakso. Yasudah tunggulah di basecamp tersebut yang ternyata di huni oleh pendaki semalam yang menyapa kami di tenda. 22 orang dari UNS Solo.
Oya lupa, ada cerita ketika Imam yang kehilangan kuci motornya. Dan ditemukan disini. Hampir semuanya pada tepar. Kurang beruntungnya aku tidak mendapatkan tempat. Giliran Ayu bangun, aku langsung deh tidur disana.
 Jam 5.an PM aku di bangunin dan akan pulang ke Tembalang, udah deh sepanjang perjalanan sebenarnya mataku sudah mulai mengantuk tapi apa daya, aku membonceng Nasrul, takut jatuh ntar. Mumpung berhenti di POM Bensin, aku gunain itu buat tidur, dan di perjalannan aku tidur lagi, bukan tidur sih mungkin tepatnya ngantuk-ngantuk ayam. Hehehe. Pokoknya aku pegangan saja jaket Nasrul, habisnya kalau aku benar-benar mengantuk, aduh tanpa mengenal tempat dan waktu, boro-boro bahaya deh.
Jam 8.an PM kami sampai di kostanku kembali dengan aman, aku langsung ambil tempat yang enak untuk tidur. Aduhh… parahnya aku. Setelah beberapa anak pulang yang tersisa hanya Aku, Marliyah, Kak Ai, Nasrul, Hadi, Wildan dan Ijan. Sambil menghitung uang yang di keluarkan, Nasrul bilang katanya sebenarnya dia mau ngebut. Tapi berhubung dia lihat aku terkantuk-kantuk dia malah bingung. Ahahahaha, iya sih yah. Aku juga ngerasa waktu membonceng dia ini kok jalan lambat. Hahaha, pokoknya makasih deh Nasrul. Kekekeke.
Selamat sudah berhasil sampai puncak dan makasih telah berpartisipasi terucap. Dan tak ketinggalan Salam dan capek yang mendera menjadi bukti penutup cerita perjalanan kami.
Yasudah sekian dahulu cerita yang aku ingat, kurang lebihnya minta maaf. Ini memang sangat panjang, tapi beginilah adanya. Wassalamualaikum, warahmatullahhi wabarakaatuh

This is My New Experience in Gn. Ungaran - Part. 1



Assalamualaikum… huah. Ternyata rasa lelah dan kantuk ini sangat menggangguku, hingga akhirnya aku lupa akan menuliskan sebuah cerita yang terangkai ketika aku menggapai cita-cita bersama kawan-kawanku yakni muncak di Ungaran 2050 mdpl yang kami giatkan pada tanggal 30-31 Juni kemarin :D. Beginilah rangkaian ceritanya:
Rabu (28/06) Hadi (Si Komting yang keriting) menjarkomkan untuk kumpul di Angkringan untuk melakukan briefing barang bawaan untuk menuju puncak (gemilang cahaya..HALAH!) di tanggal 30-31 itu. Dari rencana kami tersebut yang ikut naik ada Hadi, Wildan, Devi yang tak lain pacar Wildan, Aku, Ai, Marliyah, Rahayu dan Sekar..
Kamis (29/06) pagi aku meminjam sbnya Mbak Billy dan meminjam matras di Widi dan Dadi, sedangkan sore harinya  Aku dan Kak Ai belanja logistic, tiba-tiba Ayu sms ke Ai kalau seandainya dia tidak jadi ikut. Dibalesnya tanpa alesan sih.Kebutuhan yang kami beli itu ada kentang, Puding, sarden, Nata de coco, dan jajanan yang sekiranya dapat mengenyangkan kita dan memenuhi kebutuhan perut kita. Kekekek~ Dan memang yah, namanya cewek gag itu sipit, kurus, gemuk (hahahah) selalu lama sekali untuk yang namanya memilih barang yang kita lihat dari segi harga, rasa, penampilan serta pertimbangan-pertimbangan lainnya. Lucu deh pokoknya dan yang pasti seprti yang aku sebutkan tadi, lamaaaaaaaaa sekali. Sebelum pulang, kami membagi tugas. Dari pada Kak Ai repot, jadi aku menawarkan diri untuk mengukus kentang dan membuat pudding tersebut.
Malamnya aku pinjam itu rise cookernya Pak Tris untuk mengukus kentang bawaan. Kami membeli kentang sebanyak 7 buah, yang ukuran kecil 4 buah, dan yang lainnya besar-besar. Dan aku membuat pudding dari satu bungkus besar Nutr**ell rasa coklat. Ya Allah, aku kira mengukus kentang itu sebentar ternyata lumayan juga terlebih kentang yang besar. 2 kali mengukus yang kecil. Kenapa aku membuatnya sekarang? Karena takutnya aku kalau besok pagi tidak akan kekejar karena aku juga mau berangkat danusan di kampus. Ceritanya jadi panitia di acaranya USFnya FSM.
Jumat (30/06) hari yang aku nantikan tiba. Jujur, dari semalem aku susah tidur karena kepikiran rasanya muncak a.k.a demam panggung. Ya sudah karena aku ada janji dengan dua buah kegiatan jadi aku memutuskan untuk berangkat ngampus dari jam 7-jam 12 pagi. Haduh… niat kekampus supaya tenang sedikit tapi malah disana ketemu sama Elisabet yang kemarin habis muncak di Ungaran. Aduh lagi deh pikirku.
Hormone adrenalin membuat aku semakin membuncah hingga jam yang di tentukan tiba. Satu persatu anak seperti Marliyah datang di tempat kumpul yakni kostku, dilanjutkan oleh Kak Ai. Sambil menunggu yang lain kami mengobrol sejenak, dan tiba-tiba ada kabar dari Juru Petualang kami yakni si Wildan yang mengatakkan akan menggunakan motor saja di bandingkan angkot serta belum ditemukannya kompor serta nesting yang dibutuhkan. Langsung deh kita kami bertiga sedikit kalang kabut mengenai permasalahan ini. Isi kepala ini bertanya dari mulai pakai motor siapa, trus helmnya gag ada, ntar kalau capek gimana, trus kalau laper gag ada kompor gimana dll.
Hingga semuanya datang termasuk personel tambahan yang semuanya adalah cowok. Orang-orang tersebut adalah Nasrul, Imam, Dones, Rafif, dan Fahrizan. Sebagi orang yang mengampu sie logistic (yang tidak diakui keabsahannya) di kamar aku dilanda kebingungan. Ini mereka semua pada mau makan apa? Yasudah tercetuslah di otak aku, kak Ai dan Rahayu untuk membeli nasi sebagai makanan pertama pembuka perjalanan.
Waktu beli pula ada acara ribut sedikit dengan penjualnya lagi (Bu Har lagi cari gara-gara). Ya sudah, setelah bungkusan nasi yang ke 12 kami langsung balik ke kost. Singkat cerita kami solat asar dahulu di masjid depan. Pokoknya kami mulai jalan menunjukan pukul 4.13 PM telat dua jam dari yang diharapkan. Ya dikarenakan aku tahu diri akan bawaan dan berat badan, maka aku membonceng Nasrul yang kayakya bisa membawa aku (jiailah). Kak Ai dengan Hadi, Marliyah dengan  Rafif, Ayu dengan Fahrizan, Sekar dengan Fadhil eh Imam, dan Dones dengan Wildan. Pantesan saja Hadi dan Wildan tenang ketika kami menanyakan tentang tidak adanya motor yang dapat kami gunakan (Cerita diatas).
Pukul 5.30 (magrib) PM kami sampai di Pos Mawar. Ya Allah banyak cerita yang didapat di perjalanan, dari mulai memisahnya rombongan, Nasrul yang harus membayar tiket masuk dahulu karena dompetku yang menyelinap jauh di dalam tas (sempet panic naga), terus Ayu yang harus turun dari motor gara-gara motornya Ijan tak dapat berjalan didaerah menanjak dengan beban yang lumayan padahal perjalanan masih jauh (Hahahaha, maaf Yu Aku gag kuat untuk menahan ketawa). Dan dilanjutkan untuk makan dan solat magrib pada pukul 5.43-5.53 PM. Pemberlakuan kedisiplinan sangat di butuhkan disini terutama untuk hal vital seperti  waktu, air, dan istirahat. Oya dari mulaia pos mawar tersebut sinyal sudah mulai menghilang.
Perjalanan ke Pos 1 yang sebenarnya (menurutku) banyak memakan waktu. Hingga kita sampai di sana pada pukul 8.27 lagsung kami gunakan untuk istirahat waktunya 10 menit. Di sana Wildan banyak menginstruksi bla-bla-bla. Banyak sekali. Langsung deh kami lanjutkan. Pemandangan semarang masih belum terlihat di sini. Oh Poor Us! Napas belum ngos-ngosan sih. kami mengandalkan 9 senter untuk mendampingi perjalanan. Banyak sekali tempat-tempat yang aku tandai sebagai rute yakni pipa air selanjutnya ada sungai kecil, lalu pohon tumbang dan tak lama yakni pos 1. Yeah, semangat!
Perjalanan yang di lalui banyak digunakan oleh aku dan Ayu untuk berdzikir. Aku yang berdzikir karena melihat keAgungan ciptaan Allah dan Ayu yang berdzikir untuk mengusir makhluk halus sekitar serta korban ke panican aku bila mendengar suara aneh. Diurutkan dari Wildan, Kak Ai, Ayu, aku, Dones, Marliyah, Rafif, Sekar, Imam, Nasrul, Fahrizan, dan  Hadi. Cerita cerita banyak tercipta disana, dan di situ pula aku dapat mengenal karakteristik sifat teman-temanku tersebut.
“Sebentar lagi kita sampai di kolam renang dan sumber air. Gunakan botol kosong untuk mengambil air sebanyak yang dibutuhkan kita di atas jangan lupa kita gunain untuk berwudhu”, begitu ucapan Wildan dan diulang oleh Dones untuk menyemangati cewek-cewek ini.
Kolam tersebut warnanya hijau dan untuk posisinya agak serem sih. tapi airnya….Ya Allah aku beneran baru minum air mentah yang sejernih, sedingin dan sesegar ini dari mata air pegunungan. Mulut mengucapkan lafadz ke-esaan serta rasa takjub luar biasa. “Coba Lihat langit-langit di atas”, kata Hadi. “Kita bakal ngelihat bintang yang lebih banyak di kebun teh. Malahan kalau beruntung kita bisa ngelihat bintang jatuh disana”, lanjutnya sambil berlagak seperti bocah sambil bilang ‘Shuuut…shuuuttt’. -Emang bintang jatuh bunyinya gitu, Di- batinku.
Bentar lagi kita bakal sampai di kebun kopi, lalu tumpukan potongan kayu bakar (Wildan sempat mendahului untuk mendirikan tenda di kebun teah), lalu sebentar lagi kita melewati rumah dinas perkebunan kopi dan tiba-tiba “Ahh.. aduhh.. sakiit”, teriak Sekar. Kami yang berjalan di barisan depan lalu berhambur menuju sumber suara, Sekar kaki kirinya terkilir. Sempat aku menanganinya sebentar untuk membuat sedikit kenyamanan untuknya, lalu di alih tugaskan oleh Imam untuk mengurut dan memijatnya. Ya Allah, kasihan dia. Kami luangkan mungkin sampai 20 menit disana, untuk menangani sambil bercanda sedikit.
Setelah selesai dan Sekar bisa berjalan lagi meski tertitah tak henti hentinya anak cowok menyemangati kami untuk menghilangkan rasa keputus asaan kami (terlebih aku yang selalu bertanya ‘sampainya kapan?’ ke Dones, dan pasti anak cowok bilang ’15 menit lagi kita sampai, kok’). Aku lupa gimana rute selanjutnya pokoknya aku yang menyerupai suara toa terhadap Wildan. Yeah, kebun teah tinggal beberapa meter lagi. Sugooiii.
Pukul 22.45 Kami bagi tugas ada yang solat, memasak, mendirikan tenda. Diusahakan tidak ada yang tidak bekerja. Kak Ai selepas solat tidak henti-hentinya mengucapkan “Subhanallah” karena melihat lautan bintang di atas kami. Berasa planetarium. Catatan Ajeng: “Tu..tu..tuhhh.. Aku barusan lihat ada bintang jatuh. Benar kan itu?” seruku kegirangan yeahh… sempet berdoa walau aku yakin tak terkabul.  “Mana-mana?”, seru kekecewaan temen-temen cewek yang kecewa karena tidak turut melihatnya. Hadi menimpali ucapanku, “kalau kalian beruntung, kalian bisa melihat lebih dari tiga fenomena tersebut”. Walaupun bintangya tak seperti gambaran Hadi tentang Meteor Garden dan film 5cm, taka pa. intinya aku melihat satu bintang yang jatuh. Hehehe.
Keadaan yang mengharukan adalah ketika kami makan mie, campur sarden, dan mencocol kentang. Sungguh. Walau sedikit, itu berkesan sekali untukku. Kalau aja ada bulan dan menyinari malam kami ada butiran air sebenarnya di sela ujung mataku. Tiba-tiba pertemanan kami terasa seperti saudara. Hehehe~ terlebih ketika banyaknya pendaki lain yang berlalu lalang dan saling menyapa dengan kami, sepert “Mau kemana Mas/Mba”, “Ngopi dulu mas, sini”, atau sesekali “Ayok semangat mas mba”, dan lain-lain.
Kami tertidur dan niatnya jam 1.30 AM kami terbangun untuk berjalan menuju puncak. Tapi sayangnya waktu tersebut molor hingga jam 2an. Yasudah kami melanjutkan dengan meninggalkan Rafif dan Ijan sebagai penjaga tenda Kami. Ada cerita ketika para cewek tanpa Sekar kencing rame-rame. Lucu gan! Kencing di tempat terbuka di semak-semak dan manggunakan tisu basah  sebagai pembersih. Hahaha. Sttt! Jangan keras-keras.

BERLANJUT …..