Tampilkan postingan dengan label Self. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2015

Semua Tentang Jogjakarta (Ngayogyakarta)

Semua Tentang Jogjakarta (Ngayogyakarta)

Entah kemana pikiran ini melangkah. Entah kemana lagi pikiran ini meloncat. Hari lalu kuliah soreku yakni Ekologi Terestrial dibuka dengan cerita singkat Pak Hadi mengenai berita yang sedang tersebar di broadcast mengenai cacing-cacing di daerah Jogjakarta yang banyak menggeliat keluar dari permukaan tanah karena suhu di dalam bumi yang panas. Dan hal yang serupa pernah terjadi 9 tahun lalu. Dimana pada tahun 2006 disaat Jogjakarta diguncang dengan kekuatan yang tidak dapat dibilang kecil.

2006? Jogjakarta? Ahh.. Andai.

Entahlah semoga saja Jogjakarta selalu dalam perlindungan-Nya. Yah. Aku harap Allah SWT selalu memberikan keselamatan, kesejahteraan, dan keamanan bagi warga Jogjakarta. Aku menulis catatan ini bukan karena cerita asmaraku terhadap salah satu teman yang pernah tinggal dan mengejar ilmu di daerah Bantul, namun aku merasakan ada ikatan yang kuat antara aku dan Nagri Ngayogyakarta ini.
Memang banyak sekali kenangan-kenangan di Jogjakarta yang sangat mengesankan. Waktu jaman Mamah masih mengajar di MTs Assalafiah Kota Tegal yang studytournya memang ke sana seperti Kebun Binatang Gembira Loka, Candi Borobudur, Pantai Paris (Parangtritis), Taman Sari, Monumen Kerucut (Jogja Kembali), Kaliurang, Monumen Dirgantara dan pasti Jalan Legend Malioboro.

Semakin remaja atau mungkin dewasa semakin aku bisa melalangbuana ke bagian lain. Monumen Tugu Pal Putih dimana salah satu Iconic Jogjakarta yang berada di ujung jalan Malioboro, kembali menyusuri kenangan yakni Taman Sari, Keraton Jogjakarta (Sultan Palace), Kantor Pos Gedhe, Benteng Vredeburg, kembali lagi menghampiri Gembira Loka, Krakal, Parangkusumo, Sasono Hinggil Dwi Abad, Alun-alun Kidul tempat dimana aku pernah melihat indahnya supermoon bersama dengan sekian warga atau bahkan perantau pelajar Jogjakarta. Alun-alun Lor yang merupakan tempat parker bus-bus pariwisata. Entahlah hingga perjalanan rindu menggunakan kereta api yang berhenti di Stasiun Lempuyang.

Atau mengunjungi kampus tetangga seperti UGM, IAN Sunan Kalijaga, UII, UNY juga pernah. Mungkin pernah istirahat sejenak dari perjalanan Semarang – Jogjakarta dengan menggunakan motor dan beristirahat di warung gudeg Buk Tin.

Dari semua itu masih saja bukan ingatan atau kenangan membekas bersama Mamah, Abih, Gilang, Tante Anna yang juga pernah ikut studytour bersama MTs Assalafiah. Bukan ingatan bersama Pinkan, Denis, Ali, Manda, Yuli, Vivi, Nova dan seluruh anak ASEAN saat studytour ke IAIN SuKa. Bukan juga saat mendaftar dan tes di IAIN SuKa dan keliling malam bersama Manda ke Tugu Pal Putih sampai mbakso. Bukan studybanding ke UGM, UNY atau UII bersama teman kampus. Bukan motoran bareng Teh Hesti, dan Teh Asti nongkrong di Alun-alun Kidul lihat bulan dan bakar-bakaran sampai lupa ternyata ban motor bocor. Tentu bukan cerita bareng penjual baju, tukang delman, tukang becak, sopir bus.

Kenangan yang selalu terbekas dan menggores mungkin “Kamu” tahu Bayu Febriansyah ah bukan Gilang Ramadhan. Atau mungkin kamu lupa? Aku yang tidak tahu pasti mengenai Daerah (yang memang sangat) Istimewa Yogyakarta dan kamu bandingkan dengan wanita tiga tahunmu. Heheh. Sudahlah, memang begini ceritanya dan adanya.


Mbantul praja tamansari, ben ra ucul yo digondheli.                                                                     Sleman sembada, eman-eman marai gela                                                                            Gunungkidul handayani, bacut ucul angel nggoleki                                                               Kulonprogo binangun, karo kanca mbok ya sing rukun – Ngayojakarta Genk Kobra - 

Kamis, 28 Mei 2015

Mimpi di Hari-nya Elang

Wkwkwk, sebenarnya ini bisa dibilang bukan untuk konsumsi fuvlik sih, tapi ceritanya mau cuci gudang file-file yang belum sempet ke sini. Dan ini dibuat meskipun basi 3 bulan mungkin gag papa sih untuk disampein. Bagi-bagi cerita tentang mimpi gituu. Ok. Happy reading my alay story :D

Assalamualikum, yah akhirnya setelah liburan yang panjang ditambah dengan adanya magang yang membuatku bolak-balik Semarang – Tegal. Leleh juga sih. ditambah harus berkemas-kemas sebelum kepulangan yang terakhir karena……yeeey perpindahan kostan. Sekarang aku tinggal di kostannya Anisa. Tepi memang ada beberapa barang yang masih tertinggal disana sih.

Hari ini tepat tanggal 25 February, dan aku sudah mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun si Elang. Dan kamu tahu malam tadi apa yang aku mimpikan? Aku bertemu dengan Elang. AZZZZ.. jadi ceritanya khan aku tertidur jam 9 nah bangun itu jam 23.33. trus karena aku anggap masih malem jadi aku tidur lagi dong yah dan terbangun kurang lebih jam 02.31an. aku terbangun karena aku bingung itu mimpi buruk atau mimpi baik.

Buruknya karena ada Elang di mimpiku, jadi ceritanya ada suatu perayaan yang kita disuruh untuk tinggal disebuah kapal pesiar untuk pergi dan merayakan ditengah laut. Terus waktu pembagian kamar ada anak kecil, cewek  dan nama dan wajahnya persis sama nama adiknya Elang. Dia jatuh dari tangga dan menangis karena membentur lentai. Otomatis aku yang menggendong anak tersebut menanyakan apakah kakaknya masih ikut di kapal dan dia menjawabnya iya. Kemudian aku beranjak ke pertigaan koridor yang di sini masih rame orang-orang mencari kamar. Tiba-tiba aku bertemu Kucing, dan otomatis aku menarik tangannya sambil meminta bantuannya.

Kucing lalu memanggil di antara kerumunan orang tersebut, dan ternyata ada seorang pemuda yang mengaku kalau dia kakak dari sang anak. Pemuda itu mengenalkan diri dengan nama lain (bukan nama sekarang Elang tapi nama kecilnya). Seolah aku tak percaya dan terus saja mengikutinya. Dia tampak berbeda tapi aku tahu dia Elang dan kami mengobrol di restoran kapal. Bentik dari restoran memang dibuat dari kaca-kaca sehingga kita dapat melihat keluar. Kami mengobrol seolah tidak adanya hubungan di masa lalu. Malahan kesan awalnya dia terhadapku seperti pertemanan biasa.
Kemudian mimpi berlanjut ketika aku menemukan anak lelaki yang ditinggal ibunya, aku bermain dengannya sebelum ada orang gila laki-laki mengganggu kami. Dia katanya akan meledakan kapal tersebut dan akhirnya malam harinya aku melarikan diri bersama anak tersebut kesebuah dermaga dan ketika tak jauh sekoci yang aku kendali berjalan, kapal tiba-tiba seperti di ledakan (mungkin karena efek lihat peledakan kapal asing oleh ibu Susi).

Aku menangis karena beberapa orang yang yang aku sayangi ada di dalamnya (termasuk Elang pastinya). Kemudian dari dermaga aku di selamatkan oleh Puput yang bersiap dengan mobilnya. Dan didalam mobil aku menangis sejadi-jadinya sampai beberapa orang ynag juga melarikan diri dan Puput tentunya susah menghentikannya. Aku merasa egois, masa bodo dan menyesal disana.
Sebenarnya memang ingin sekali aku melakukan hal yang demikian. Tapi aku tahu itu mustahil karena setiap aku melihat wajah dia selalu melihat sejarah. Di mimpi itu entah kenapa aku seperti merasakan tangisan di dalam. Sebenarnya aku sungguh ingin melupakan dan menganggapnya teman, tapi aku juga tak ingin itu terjadi. Entah mengapa disaat-saat tertentu Elang, dan Kancil selalu saja muncul padahal keinginnanku adalah melupakannya.

Ketika liburan kemarin, tante Ana cerita kalau kayaknya Elang putus dengan pacar 3 tahunnya. Aku bertanya darimana dia tahu yang dijawab dengan semua foto dia yang sendirian tanpa si wanitanya dan menyuruhnya mendekatinya lagi.

Huah? Mendekatinya lagi? Aku yang sekarang bukan aku yang dulu dong yang bisa diam. Dari putusnya itu kemudian ia mengganti nama kecilnya. Yah, mungkin dia masih terbayang dengan wanita 3 tahunnya. Tante Ana itu orangnya rese, pakai nyanyi lagu Afgan yang liriknya ‘Jika aku bukan jodohmu, ku kan berhenti mengharapkanmu. Jika aku memang tercipta untukmu, jodoh pasti bertemu’. Hahahaha.

Aku sih Enggak. Katanya Anang yang aku copas langsung. Gag mau deh ada cerita-cerita aku nangis.
Yasudah ini karenaharinya Elang, aku mau mengucapkan selamat ulang tahun dan semoga keberkahan selalu terciptauntukmu.


Karena mimpi tersebut kemudian aku terbangun dan tahajud. Tapi entah mengapa aku tiba-tiba ingin menjadi stalker kembali. Owh no! sadarkan aku Ya Allah *sambil menyanyikan lagu milik Afgan tersebut. 

Ajeng di Balik Bayangan Pernikahan

Udah lama kali tidak berkabar :D, Assalamualaikum semuanyah? Gimana kabar yo semuanya sehat yah semuanya ini ,, *kata bang Dzawin SUCI.

Jujur sebenarnya kabar daku sungguh dalam keadaan yang memprihatinkan, dan merintis untuk tulis menulis lagi deh. Selain nulis skripsi tersisip juga nulis diari. Ini dapet inspirasi dari hasil obrolan sama sahabat MAN, Yuliyanti. Dia bilang salah satu sahabat kita yang lain, temen deket kami, Deni Anis atau akrab di panggil Denis mau nikah setelah lebaran 1436 H, atau lebaran Idul Fitri Juli 2015 ini.

Oke Fine! Mei, Juni, Juli. Temen MAN yang lain kaya si Debby sama Suci juga mau nikaaaah… aahh Shit! Anyway, just can speechless. I don’t know, how can them do that to me. Gue JOMBLO ment! Fak! Owh, sorry aku ralat, lebih tepatnya aku memilih untuk SINGLE. SATU, SENDIRI, MANDIRI Tapi aku bukan Soledad yah, no Alone, no Lonely. Ya But sometimes, I felt give up. Atau mungkin sempat merasa I felt too lonesome on the crowd. Nangis.

Jujur siapa lagi yang harus bertanggung jawab kalo bukan mantan seriusan pertama dan terakhir selama 4 tahun ini?! Aku belum real lupa dia. Setiap ada yang deket, kurang aku tanggepin. Ada yang kasih perhatian, aku acuhkan. Sampai ada yang jelas-jelas nyindir sambil bilang, “kalau nunggu jawaban dari kantor mah paling sejam dua jam dan lamanya paling 3 hari, tapi kalau nunggu jawaban Ajeng mah gag tau sampe kapan limitnya. WTF (re: Wow! This Fantastic!) kapan dia bilang?

Kayaknya ada factor kenapa aku milih sendiri deh, hal ini aku cocokkan sama artikel di Hipwee yang bilang aku terlalu asik sama duniaku, karena trauma masa lalu, daaaaaannn …. Masih keinget mantan. Arhhh.. Mother Fucker! Terus gimana? Harus gitu gue jadi perawan tua? Dilangkahin adek gue Gilang yang jaraknya cuman 15 bulan gara-gara nungguin 12 tahun Rangga dan gue mampu bertahan? Eh? Emang gue Cinta apa?

Eits.. ngomongin AADC, kok bisa ya si Cinta nungguin Rangga selama itu? Kalau seandainya 12 tahun dari 2011 … 2023, 2023 dikurangi 1995 berarti umurku …. WANJRIT ! 28 Tahun? Sibuk kerja ya Mbak?! Setiap dapet undangan pernikahan atau kondangan mantenan kata orang Tegal yang awalnya waktu ABG aku kira wisata kuliner prasmanan jadi wisata religi karena setiap saat ketemu orang yang dikenal kita cuman bisa ber-Istighfar gegara selalu ditanya “KAPAN NYUSUL NIKAH?”, idiiihhh Amit-amiiiittt.. Ya Allah jauhkanlah HAMBA dari Pemikiran ini  :C

Jangan sampai di umur segitu aku nangis kalau dapat undangan sambil nyanyi lagunya BBB Girl – Ku Ingin Menikah di tengah rintikan hujan?!

Ahhhh.. Semoga saja tidaak, Lets smile my beautiful boyish girl J

Minggu, 16 November 2014

introduce Ajeng's Family

Gilang. Ayi. Ajeng

ajeng dan Ibundanya di Lebaran Fitri 2014

Ajeng dan Ibundanya Di Adha 2013

Me and My Heroes

The Oldest Daughter with her Father

Me and Brada

132
Ayi, Gilang, Tante Anna, Ajeng

Manar Ragilia Makarim dan Mohreza Gilang Zulfiqor



Assalamualaikum. Hehehe. Hadir lagi disini tulisan-tulisanku yang muncul ditengah renunganku. Asik. Gag, jadi waktu bengong eh itu pikiran nyangkut saja tanpa terduga. Hehehe. Postingan ini menceritakan serta menguraikan (bahasanya kaya ngerjain laporan euy) tentang adik-adikku yah. Jadi aku tercipta sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Jadi tuh awalnya kami hanya dua bersaudara, tapi setelah mamah melahirkan putri kecil yang paling ragil maka menjadi tiga bersaudara.

FYI. Namaku kan Hasna Ajeng Fadhilah. Nah kata Mamah, Ajeng itu yang menandakan aku anak pertama. Umurku pas 15 bulan waktu adikku yang pertama lahir di bulan Juli. Mohreza Gilang Zulfiqor itulah nama anak kedua Mamah. Kata Abih, nama tersebut diberikan supaya dia kelak menjadi pelindung atau tameng yang handal dimaksud disini karena nama Gilang Zulfiqor itu artinya Pedang yang Bersinar Terang sedangkan untuk Mohreza aku gag tahu artinya. Hahaha* Mbak yang keren!. Aku panggil dia ‘Nang’, atau ‘Dek’ dimana waktu kecilnya Gilang demen banget diceritain tentang sejarah Nabi Muhammad, Guest what? Salah satu pedangnya Beliau ada yang bernama Zulfikar. Makanya itu pandai-pandai dirawat agar tidak membahayakan.

Pakaian yang digunakan aku sama Gilang waktu kecil itu hampir sama. Gag ding, sekarangpun kalau pulang kampong, kaos oblong distronya dia tetep aku pakai hahaha (tapi dia sebenarnya tidak setuju dengan  rambut super cepak mbaknya ini). Banyak banget foto kami yang bajunya mirip. Dulu tuh Gilang ngegemesin banget, dan paling cengeng kalau diledek ‘Pakde-Pakde’. Jadi dulu dia demen banget pakai baju-baju yang bermotif batik. Nah terus waktu di study tournya Mamah ke Jogja dibeliin blangkon dan jadi aksesoris favorit dia.

Pernah dulu aku ngiri berat sama Gilang, pakai nangis-nangis gag mau ketemu Mamah gara-gara aku kan juga mau nyusu eh malah jatah aku buat Gilang. Dia berhenti nyusu mamah tuh waktu umurnya 2tahun gag sampe setengah, gegara mamah minum daun apa gitu lupa. Jadi setiap ngempeng dia nangis-nangis. Hahaha.

Untuk sekolah, kami satu alumnus ketika Taman Kanak-kanak di Masyitoh 3 Kota Tegal sama SDN Panggung 7 (huaahaha) makanya dia tahu bandelnya mbaknya waktu SD nonjok anak lelaki sama ngebuat K.O kakak kelas. Tapi ada satu kenangan waktu dia TK dan aku SD kelas 2 atau 3 gitu. Jadi TK sama SD itu khan deket tapi dipisahkan sama kali/sungai, dan disetiap jam pulang sekolah pasti di jembatan penghubung itu ada yang berjualan entah jajanan atau permainan (gerobak arumanis).

Siang itu entah gimana ceritanya Gilang ada di sana. Dia yang tahu mbaknya pulang sekolah langsung diserbu tangannya sambil bilang, “Mbak..itu mainannya bagus. Beli satu mbak, aku pengin itu”. Orangtua kami memang tidak memberi kami uang sangu waktu kecil jadi kalau mau berangkat pasti Abih masukin roti S*I** dan air ke tas kami. Alhasil aku membujuk dia untuk pulang ke rumah Embah (kebetulan rumah Embah dekat dengan sekolah kami) dulu minta uang baru beli mainan. Eh dijalan dia ngerengek terus. Aduh… aku gag betah dan akhirnya….. “Huaaa.. pulang dulu dek. Nanti Mba Ajeng minta uang terus beli mainan”, bujukku sambil nangis juga. Untungnya dijalan ketemu ibu temannku yang dengan baik hati mau meminjamkan uang kepada dua kakakberadik yang nangis ini uang buat beli mainan. Hahahaha. Parah..parah.. Akhirnya kita kembali ke jambatan dan membuat Gilang senang dengan adanya robot plastic ditangan.

Haduh serius gegara menulis ini jadi teringat dan akhirnya ketawa sendiri. Mungkin karena umur kami yang dekat, jadi aku sayang sekali sama adikku. Keinget waktu aku menjotos teman Gilang si Gendut Edo gara-gara ngerobek atau ngrusak tasnya Gilang gitu. Memang sih itu urusan mereka, tapi gag tau apa dulu masih jaman susahnya keluarga Mamah & Abih beli ini-itu, sakit banget ingetnya.

Ada cerita lagi waktu itu kalau gag salah dia kelas 3 sd. Disuatu pagi dia mendadak gag mau masuk sekolah, katanya malu dan minta Abih buatin surat sakit. Mamah ngedeketin dia di tempat tidur, abis mukanya dia ditutupin bantal rapet bener khan Mamah takut dia kenapa-kenapa yah. Setelah ditanya, sumpah jawabannya bikin ngekek kami, “Gilang malu ada murid pindahan namanya juga Gilang”. Lhah? Terus kenapa gituh kalau namanya sama. Orang dulu saja ada 3 Ajeng dikelas yang sama, dan aku adalah Si Bandel Ajeng. HAHAHAH.

Ketika SD kami berdua termasuk anak yang aktif di sekolah. Malah Gilang sudah berpengalaman ini-itu lomba olahragalah inilah. Memang sih diawal-awal sekolah dia bisa dibilang kurang lancar membaca dan menulis. Aku prihatin sama dia meskipun aku sama-sama masih kanak-kanak. 

Dia itu males sekali belajar, kerjaannya main terus sama teman dia yang namanya Agung, Nouval, Stefanus. Berbeda sekali sama aku yang terobsesi agar bisa masuk SMPN1 atau SMPN2.Apa yang ditanam kita maka akan dipetik juga buahnya. Alhasil dia gag masuk di SMPN1 malah ke yang deket SD, SMPN4. Ya gak kenapa-kenapa sih, Cuma disayangkan saja.

Disini dia masih aktif jadi anak pramuka, paskib sama karate. Prestasi lain yang dia dapat di olahraga yakni basket. Pernah dia menang turnamen dan akhirnya dibelikan sepatu basket sama Mamah. Tapi memang waktu itu mamah masih pengen anak-anaknya precious dibidang akademik, jadi yah begitulah. Kalau gag salah dia pernah ikut perwakilan se-SMPnya untuk menjadi Polisi Keamanan Sekolah di traine gitu. Bangga banget waktu lihat dia nyebrangin temen-temennya dijalan. Mulia gitu kelihatannya.

Tapi disini timbul sifat dia yang pemberontak. Aku lupa permasalahan itu yang menyebabkan Abih sama Gilang bertengkar hebat. Mereka berdua sama-sama keras di keuarga sama-sama berbadan besar juga. Mamah yang jadi penengah Cuma jadi tameng buat Gilang tapi tetep nangis. Aku Cuma bisa nangis-nangis saja ngelihatnya. Sampai akhirnya Abih mukul tangannya sendiri ke tembok smpe berdarah dan bengkak. Setelah itu hubungan Gilang sama Abih jadi awkward gitu. Bengkaknya Abih gag sembuh-sembuh padahal sudah direndem air garam. Gilang yang ikut merasa bersalah akhirnya mencarikan tukang pijet. 

 Atau cerita lain dimana Mamah dipanggil walikelas Gilang yang bilang kalau nilai Gilang anjlog drastis gara-gara dia main terus sampai tugas terbengkalai. Atau yang dia pulang terlambat dan ada luka memar di wajahnya dia. Mamah yang khawatir selalu nangis kalau lihat dia. Beliau selalu menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu sibuk sehingga gag memperhatikan Gilang. Yah aku paham gimana posisi Gilang sih. waktu itu jamannya mamah baru-baru PNS dan sibuk ini-itu. Mungkin lingkungan teman yang ‘selalu ada’ disaat dia butuh support kami selaku keluarga juga mempengaruhi.

Dia masih yang sama kurang tertarik kalau disuruh belajar hingga sekolah di SMAN2 tapi masih aktif di ekskulnya ini yang membuat Mamah heran. Kenakalannyapun masih sama. Tapi dia yang dari dulu dekat ke aku cerita ke aku kalau di nonjok temennya gara-gara dia di fitnah temennya dan bbeberapa alas an lainnya.

Masa SMA dia menjadi pribadi yang tertutup. Setiap pulang kegiatan, dia selalu masuk kekamar. Sibuk dengan dunianya disana. Lalu hanya keluar jika kami mau makan malam saja.itupun dia memisah sambil nonton tv.

Ada sifat yang aku banggain dari dia. Selalu menabung uang berapapun itu, mau menahan diri dan bekerja. Ya, dia bekerja tanpa memberi tahu kami sebagai penjaga warnet dan asisten guru olahraganya. Buat tambah-tambah uang katanya, jadi gag merepotkan Mamah & Abih. Terharu banget waktu aku tahu ini. Kiranya disetiap sisi buruk seseorang ada sisi baik dibelakangnya. Uang-uang inilah yang terkadang dipinjam mbaknya kelak. Hehe maaf ya Lang. Dia ini sebenarnya sayang sekali ke keluarga, tapi sifatnyaa ini tertutup sama kerasnya dia.

Aku sayang sekali sama dia, sampai-sampai saat dia gagal kesana-kesini minder, sebagai kakak aku support dia, kaya yang waktu dia gagal masuk ke univ. yang dia favoritkan. Gag jarang Mamah dibuatnya nangis, Abih dibuatnya gag bisa ngomong apa-apa, Ayi adekku yang paling kecil dibuatnya menangis juga. Tapi sebenarnya kami semua saling support, saling mendoakan. Gag jarang Mamah dibikin terharu sama dia, Abih dibikin terbantu dengannya, atau Ayi yang walau terkadang selalu dinakalin, diledek, dibuat nangis selalu nempel sama dia karena apa (?) dia juga sayang Ayi, di ajakin jalan-jalanlah, diketirin ke alun-alunlah pakai motor, dibeliin susu lah, dibeliin es krimlah.

Ada manusia lain yang tercipta sebagai adik perempuanku. Manar Ragilia Makarim. Itu nama si bungsu keluarga Ayi dipanggilnya dari kata Makarim. Nama tersebut merupakan nama yang dipilih Mamah, Abih, dan kakaknya. Jangan panggil dia ‘Nar..Nar.. itu beda arti nama. Manar adikku artinya kebaikan, tapi kalau ada orang bodoh nulis namanya jadi Mannar itu perlu diketahui artinya neraka. Sedangkankan arti Makarim berasal dari Karomah yang berarti Mulia. Sebagai kakak, kami titip nama Ragil saja yang artinya anak terakhir. hahahah. Sudah cukup dia aja anak terakhir, sudah cukup sampai dia saja anak Mamah Abih. Anak yang terlahir ketika Gilang berusia 15 tahun di tahun 2011. Berita kehamilan Mamah sempet membuat aku dan Gilang syok. “Masa iya sih mba, udah gede gini punya adik lagi. Aku gag mau ah”, aku ingat kata-kata Gilang. Tapi ternyata Gilanglah yang membopong mamah waktu proses melahirkan ke rumah bersalin itu, hahahaha.

Emang, keinget banget waktu mamah hamil Ayi, sumpah manjanya gag ketulung. Midamnya sih gag macem-macem, Cuma ngeselin banget ibu hamil ini. Gilang, Aku, sama adik bungsu mamah (Te Anna) jadi sering curhat dan ngeluh. Oya jarak usia te Anna dan Mamah itu 16 tahun, sama kaya aku ke Ayi. Waktu itu aku dapet banyak coklat Silv** Qu**n, tahu gag siapa yang ngehabisin persediaan amunisi itu. Ya MAMAAH. Katanya adek di perut pengin, aku Cuma nyengir kuda. Iya kali janin mau coklat. Atau (aku mau ketawa inget ini) mamah yang menghabiskan isi toples es krimnya Gilang yang nyebabin tuh bocah mbentak-mbentak Mamah, Mamah nangis dan akhirnya Gilang mesem-mesem ketawa. Atau midam sate ayam, susu, korma, madu yang nyebabin te Anna juga misuh-misuh. Hahahhaa.

Hasilnya mau tahu? Ayi lahir setengah meter dengan bobot yang dapat dibilang ‘akbar’. Jadi khan memang setiap bulannya Mamah cek ke dokter, aku yang menemani. Di bulan ketiga katanya bobot janin itu kecil. Makanya ada cerita di paragraph atas. Mamah disuruh operasi sesar diusianya yang genap 45 tahun, dan itu mengkhawatirkan kami. Terutama si Abih yang menyebabkan ini semua terjadi (Eh?! HAHAHAH). Aku yang ngintip mamah nangis-nangis dikamar bersalin Cuma bisa ketawa sambil mesem-mesem. Katanya gini, “Waktu mau ngelahirin Gilang sama Ajeng gag gini sakitnya Bih.. Huhhuhu, Ya Allah sakit”. Abih yang menemani sang belahan hati (huahaha) Cuma bisa ngelus-ngelus punggung Mamah sambil bilang, “Sabar ya mah… Sudah Istighfar saja”. Ya iyalah tu bayi gede benget.

Eh pas Ayi lahir, kata Abih gini “Abih tah bingung waktu mau ngadzanin dia (sunnah Rasulullah). Sambil mikir yah Ya Allah daning (kok) anakku gede banget kaya gini”. Seenaknya saja aku menimpali, “Ya gimana gag besar tuh bayi. Coklatnya mbaknya, dimakan. Es krimnya masnya, dimakan”. Eh malah aku diomelin Abih, “Kamu yah, masih perhitungan juga. Ya sudah nanti kalau Makarim sudar besar Abih suruh mbeliin kakaknya coklat sama es krim”. Kontan aku ketawa seketika.

Yang lucu, kalau ada yang menjenguk dan bertanya ke Abih missal gini, “Kue berarti sing cilik ora direncanani apa kepimen? Wong kakang-kakange uwis gede-gede (Itu berarti si kecil gag direncanain atau giamana? Kakaknya saja sudah pada gede?)”. Abihku menjawab dengan tegas (halah, hahah) begini, “Ya direncanaken yah, wong genahe ayu, gede, Alhamdulillah metu maning. Dadine angger kakange kuliah, ana sih tetep ngeramekna umah (ya direncanain lah, khan dia cantik, gede dan Alhamdulillah keluar. Jadi kalau kakaknya kuliah, masih ada yang meramaikan rumah)”. Hahahah.

Aduh ngerasa banget punya adek kecil. Gilang masa iri coba sama ini bayi gara-gara batal jadi bungsu padahal dia udah ABG. Gaweannya ngikut kaya ibu-ibu. Ngebersihin puupnya dia, nggendong bayi yang benar, pakein popok dia, gede sedikit mandiin dia, nyuapin dia, ngajak jalan-jalan dia, ngajarin dia nyanyi, berhitung, belajar, main masak-masakan bareng dia. Berasa aku sendiri yang punya anak. Tapi mungkin memang jalan Allah dengan kehadiran dia banyak manfaat kelak kalau kita punya anak.

Pernah aku marah-marah tengah malam waktu Ayi masih berapa minggu gituh gara-gara dia nangis tengah malam dan sumpah itu ganggu tidur aku banget. Awalnya aku dimarahin Abih (tau nih, Abih sayang banget sama ini bocah) terus paginya beliau bilang, “Suaranya tangisan bayi itu kalau di denger dan diperhatikan itu sebenarnya bakal ngangenin soalnya merdu, ya Dek yah”. Aduh lagi-lagi aku harus ketawa kuda sambil meninggalkan Abihku dan anak barunya yang lagi komunikasi kali. Ya kali, bayi ditanyain, ya tu bayi cuman mlongo doang. Manalagi kalau Ayi (besarnya) manggil Abih bukan Abih, tapi ‘Ayah’. Kalau Abih panggil anak emasnya ini, ‘Inok’, ‘Makariiimmm’, ‘deeekkk’ atau ‘Anak Ayah yang Cantik’. Nah terus aku apa dong Bih? Jawabannya abih, ‘Anak Abih yang Pinter’ Hahahahah. \O-O/

Berbeda Gilang kecil yang suka diceritain tentang pedang Zulfikarnya Rosulullah, Ayi yang sekarang sudah hapal shalawat Nariyah, sholawat nabi, doa-doa sederhana, Al Fathikhah, Surat An-nas, Al Ikhlas, Al-Ashr, bahkan sudah bisa menirukan bagaimana gerakan bahkan lafal dalam sholat ini paling suka sebelum tidur shalawat nariyahan dahulu. Kan ada bait, “Wa Husnul Khowatimi Wa Yustasqol Ghomaamu, Bi Wajhihil Karim ….” Nanti dia langsung berceloteh, “Ih, itu ada Karim. Ini Makarim”, sambil dia mengelu-elukan dirinya sendiri. Heheheh, lucu + menggemaskan. Tapi tambah tahun, tubuh Ayi mulai menyusut drastic, aku tambah sayang ke dia. Tambah kurus, walaupun begitu bila tertidur ia nampak terlihat sekali tambah panjang/tinggi. Selain itu dia sudah pintar  nyanyi, nari, ngelawak serta serta tahu alamat lengkap rumah kami. Semoga sampai nanti yah dek, Mbak tetep ngelihat kamu berkembang dengan ceria dan riang.

Karena dua adikku inilah yang memotivasi aku untuk lebih baik agar bisa memimpin mereka, melindungi mereka (kalau sudah saatnya Mamah Abih tenang dipelukan Allah. Insya Allah aku siap dengan tulisan ini). Sedih banget kalau inget ini. Pernah keinget pesan Mamah waktu mau nganter aku kuliah di Semarang, “Kalau sudah besar dan kamu bakal ngerawat Gilang sama Ayi, jangan jadikan itu beban buat kamu. Lakuin itu karena ibadah dan merekalah keluarga kamu di dunia dan di hati. Bimbing mereka dijalan baiknya Allah, ingetkan mereka kalau salah. Tapi kamu jangan mencampuri urusan mereka. Lepaskan mereka, dan percayakan mereka, berilah amanah seperti Mamah dan Abih memberi amanah ke Kamu kalau kamu di Semarang”. Seddddiiihhh…. Kangen Mamaaaaahhh…

   
 
   
   
   
 

Sabtu, 11 Oktober 2014

Monkii Monkii dan Monkii



Yeahh.. akhirnya aku menuliskan tentang salah satu pet yang aku sayangii.. dia adalah Monyet! Yap, Monyet. Aku panggilnya Monkii aja kali yah.
Sssshhh.. (tarik nafas dulu). Tentang dia. Dia yang menyebalkan. Serius. Aku juga heran, kenapa lebih memeilih Monkii dibandingkan pet yang lain. Aku rasa kami juga tidak saling kenal. Emm.. mungkin aku mengenalnya, namun dia tidak mengenalku. Atau dia mengenalku sekenal aku ke dia. Menghilangkan rasa illfeel yang ada dan sekarang biasa saja.
Biasa saja? Yakin? Teruus kenapa pakai acara nyanyi sambil senyum-senyum segala? 
Ya khan maklum, kalau kita mengingat kembali sesuatu yang absurd, aneh, atau lucu bin illfeel khan tanpa sadar kita nyanyi-nyanyi sendiri. Iya khan? Apa lagi kalau membaca ulang buku yang pernah aku tuliskan dan didalamnya terdapat nama dia. Tambah-tambah geli. Aduh gimana yah menceritakannya. Ituuu sulit banget di ceritainnya, Man! Apalagi nginget sesuatu yang gila. Ketawa-ketawa sendiri. Kok bisa yah, aku segitunya ke dia waktu awal kuliah? Yah, habisnyaa.. dia pake acara senyum-senyum gitu. Tapi mungkin bukan ke aku kali yah.. JANGAN PEDE.
Nggak kok. Kemarin. Tepatnya hari rabu sebelum matkul bio konservasi. Waktu itu aku, Rofiqotul dan Fey lagi mau makan di kantin (rencananya). Tapi waktu di payungan ada Vika, Rahita, Fadil, dan Endah lagi duduk nyante sambil ngegosip yang menyebabkan si Fey nggobrol dulu sama mereka. Nah tinggallah aku sama Rofi yang ngelanjutin perjalannan.
Astaghfirullah,, kantin hari itu rame pake banget. Tampaknya tak ada tempat untuk kami makan disitu. Lalu tak jauh dari sana aku melihat ada Hesti yang sedang makan bersama Sofiana, Mumud, Fifit trus siapa lagi gitu. Tapiiiiii setelah mataku mencari-cari meja kosong. Aku melihatnya. Yap! Si Monkii lagi duduk disana sama temen-temen ceweknya. Aduh.. salting nih. Tapi intensitasnya jauh lebih rendah dibanding yang dulu-dulu. Sempet minta gorengannya teteh sih buat ngilangin saltingnya.
Daripada nunggu lama mending ke counter makanan yang kanan pojok. Aku beli air mineral sih, tak lama si Monkii jalan kearah sini. Omegoott. Eh, ternyata dia beli di counter yang sebelahnya. Dekeeettt banget. Kami berdiri saling memunggungi gag ada satu meter. Aku yakin itu. Kami sedekat itu. Dan sedekat itu aku melihat wajahnya. Dekaaatt sekali. Hanya dibatasi oleh tembok saja.
Tapi aku mejauh dahulu darinya, takut perasaan yang itu hadir kembali. Ya sudahlah. Langkahku di berhentikan Teh Hesti, aku bilang kalau mau duluan. Duduk-duduk bareng mereka. Tapi tetep saja si Hesti narik tanganku biar aku duduk disitu. Hesti itu salah satu temen deket yang aku tunjukin tentang Monkii, tapi aku kurang yakin dia tahu ada Monkii disana. Tapi tetep, mataku gag lepas darinya.
Langkah kaki terarahkan menuju payungan. Bergabung kembali dengan yang lain. Mengobrol dengan yang lain. Tak lama kakiku ingin segera menjauh. Aku mulai mengatakan pada yang lain niatku masuk ke kelas terlebih dahulu. Salam perpisahan itu. Aku tak sengaja ingin melihatnya, dan ketika mataku tertuju padanya.. AKU YAKIN, MATANYA JUGA MENGARAH PADAKU. Segaris tipis itu juga aku yakin melihatnya.
Subhanallah,, jagalah hamba.